Wednesday, June 18, 2025

JURNAL PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL ( CASEL )

 

JURNAL PEMBELAJARAN MODUL 2

PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL MELALUI

PEMBUATAN “WASTE REDUCTION POSTER” UNTUK MENDUKUNG

PROGRAM GERIMIS ( GERAKAN RINGAN MENGURANGI SAMPAH )

DI SMAN 15 BEKASI PADA FASE E

 

 

Di Susun oleh :

Abdul Haris Azis, S.Pd


LPTK Universitas Muhammadyah Prof. Dr. Hamka

PPG GURU TERTENTU TAHAP 1 TAHUN 2025





1.    PENDAHULUAN

PENGERTIAN PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL ( PSE )

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan sebuah pendekatan pendidikan yang terstruktur dan berorientasi jangka panjang, yang dirancang untuk membantu peserta didik khususnya remaja di jenjang Sekolah Menengah Atas, dalam mengembangkan kecakapan sosial dan emosional yang dibutuhkan dalam kehidupan pribadi, akademik, dan sosial mereka. PSE menekankan pentingnya mendampingi siswa bukan hanya dalam pencapaian akademik, tetapi juga dalam membentuk karakter, memperkuat integritas moral, serta menumbuhkan kesadaran diri dan empati terhadap orang lain.

Bagi siswa SMA, masa remaja merupakan periode kritis yang penuh dengan tantangan perkembangan, seperti pencarian jati diri, tekanan sosial, dinamika hubungan pertemanan, dan tuntutan akademik. Dalam konteks inilah PSE menjadi semakin relevan. Berikut adalah lima kompetensi utama dalam PSE yang sangat penting untuk dikuasai siswa SMA, yang sekaligus dapat menjadi panduan praktis bagi guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang bermakna secara emosional dan sosial, Kesadaran Diri (Self-Awareness) adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi, pikiran, dan nilai-nilai yang mereka anut, serta memahami bagaimana semua itu memengaruhi perilaku dan keputusan mereka sehari-hari.Bagi remaja SMA, kesadaran diri sangat penting karena mereka mulai mengalami perubahan emosi yang kompleks dan identitas diri yang sedang terbentuk. Guru dapat membantu siswa membangun kesadaran ini melalui refleksi diri, jurnal pribadi, diskusi nilai, serta pengenalan terhadap konsep seperti self-concept dan self-esteem. Dengan meningkatnya kesadaran diri, siswa menjadi lebih mampu mengelola tekanan, mengenali potensi diri, dan memahami arah hidup mereka ke depan. Manajemen Diri (Self-Management) Kompetensi ini mencakup kemampuan untuk mengatur emosi, pikiran, dan perilaku secara produktif dalam berbagai situasi, termasuk kemampuan mengendalikan impuls, mengelola stres, menetapkan tujuan pribadi, dan memotivasi diri.

Siswa SMA dihadapkan pada berbagai tekanan akademik, sosial, bahkan keluarga. Kemampuan untuk tetap tenang, fokus, dan gigih dalam menghadapi tantangan sangat penting untuk mereka kuasai. Guru dapat membantu dengan membimbing siswa membuat perencanaan tujuan (goal setting), strategi manajemen stres (seperti teknik pernapasan, journaling, atau mindfulness), dan cara-cara untuk menunda kepuasan demi hasil jangka panjang. Kesadaran Sosial (Social Awareness) berarti kemampuan siswa untuk memahami dan menghargai perspektif orang lain, termasuk dari latar belakang budaya, nilai, dan pengalaman yang berbeda, serta menunjukkan empati terhadap sesama.

Remaja SMA mulai berinteraksi lebih luas dan kompleks dengan berbagai kelompok sosial. Di sinilah letak urgensi peran pendidik dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi pengembangan nilai-nilai toleransi, sikap terbuka (open-mindedness), dan kompetensi empatik. Aktivitas seperti studi kasus sosial, diskusi kelompok tentang isu-isu kemanusiaan, atau proyek layanan masyarakat dapat menjadi sarana efektif dalam mengembangkan kesadaran sosial siswa. Keterampilan Hubungan (Relationship Skills) Kompetensi ini mencakup kemampuan siswa untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dan saling menghargai, menyampaikan pikiran dan perasaan dengan efektif, bekerja sama, serta menyelesaikan konflik secara konstruktif.

Di masa SMA, hubungan pertemanan dan percintaan mulai menjadi bagian penting dalam kehidupan siswa. Di sinilah peran guru menjadi krusial untuk membantu mereka belajar cara berkomunikasi asertif, menghargai perbedaan, dan menangani konflik tanpa kekerasan. Guru juga dapat memberikan simulasi, role play, dan forum diskusi untuk memperkuat keterampilan ini.

Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making) Ini adalah kemampuan untuk membuat pilihan berdasarkan nilai etika, norma sosial, dan pertimbangan terhadap keselamatan serta kesejahteraan diri sendiri dan orang lain. Siswa SMA menghadapi banyak keputusan penting—mulai dari memilih jurusan kuliah, menjauhi perilaku berisiko, hingga menentukan arah hidup. Dengan memfasilitasi pengembangan kompetensi pengambilan keputusan yang berbasis nilai-nilai etika, pendidik berperan strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang memiliki akuntabilitas sosial untuk menghadapi tantangan masa depan. Pengembangan kompetensi ini dapat difasilitasi secara efektif melalui kegiatan seperti analisis studi kasus nyata, diskusi etika, serta eksplorasi skenario dilema moral yang memungkinkan peserta didik melatih keterampilan pengambilan keputusan secara reflektif dan bertanggung jawab

5 Kompetensi Sosial Emosional Menurut CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning)

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang efektif harus mencakup pengembangan lima kompetensi utama yang saling berkaitan. Kompetensi ini menjadi dasar dalam membentuk karakter, memperkuat hubungan sosial, dan mendorong pencapaian akademik serta kesejahteraan psikologis siswa, terutama pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), di mana para remaja berada dalam masa transisi emosional dan sosial yang kompleks.

1. Kesadaran Diri (Self-Awareness)

Kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi, pikiran, kekuatan, kelemahan, nilai-nilai pribadi, serta bagaimana semua itu memengaruhi perilaku dan pengambilan keputusan. Kesadaran diri bukan hanya mengenali perasaan sesaat, tetapi juga memahami pola emosi dan menyadari reaksi yang mungkin timbul dalam situasi tertentu.

Contoh di kelas:

Seorang siswa menyadari bahwa setiap kali mendapat kritik terhadap hasil karyanya, ia cenderung langsung merasa tersinggung dan kehilangan motivasi. Namun setelah melakukan refleksi diri—melalui jurnal pribadi yang diberikan guru—ia mulai memahami bahwa kritik tersebut bukan bentuk penolakan terhadap dirinya, melainkan bagian dari proses belajar. Ia juga mulai memahami bahwa kekuatan utamanya terletak pada berpikir visual dan imajinatif, sementara ia perlu bekerja lebih keras dalam keterampilan verbal. Guru mendorong siswa untuk mengungkapkan perasaan tersebut dalam diskusi terbuka, menciptakan budaya kelas yang mendukung kesadaran emosional.

2. Manajemen Diri (Self-Management)

Kemampuan untuk secara sadar mengelola emosi, pikiran, dan perilaku dalam situasi yang menantang. Termasuk pula pengendalian diri, manajemen stres, disiplin diri, motivasi internal, dan kemampuan menetapkan serta mencapai tujuan.

Contoh mendalam di kelas:

Menjelang ujian presentasi kelompok, seorang siswa yang biasanya gugup belajar menerapkan teknik pernapasan dalam dan positive self-talk yang telah diajarkan guru BK. Ia juga membuat to-do list dan time block pada kalender untuk menyelesaikan tugas tahap demi tahap. Meskipun beberapa temannya mengajak bermain gim online, ia memilih tetap pada rencana yang telah ia tetapkan. Guru menghargai usaha manajemen diri tersebut dengan memberikan ruang refleksi setelah presentasi agar siswa bisa meninjau proses mereka secara konstruktif.

3. Kesadaran Sosial (Social Awareness)

Kemampuan untuk menunjukkan empati, memahami perspektif orang lain, dan mengenali norma-norma sosial dan etika yang berlaku dalam konteks sosial yang beragam. Kesadaran sosial mencakup sensitivitas terhadap perbedaan budaya, latar belakang, dan kondisi individu.

Contoh di kelas:

Dalam proyek kelompok lintas kelas tentang keberagaman budaya Indonesia, seorang siswa awalnya tidak sepakat dengan gagasan temannya yang berasal dari suku berbeda tentang cara penyajian materi. Namun, setelah mendengarkan dengan aktif dan memahami latar belakang budaya temannya, ia menyadari bahwa perbedaan pendekatan justru memperkaya hasil akhir. Ia kemudian menyampaikan penghargaannya terhadap perspektif tersebut dan mendukung ide untuk menyatukan dua pendekatan sebagai bentuk kolaborasi lintas budaya. Guru memfasilitasi pembelajaran ini dengan sesi refleksi tentang keberagaman dan inklusi.

4. Keterampilan Berhubungan (Relationship Skills)

Kemampuan untuk menjalin dan mempertahankan hubungan yang sehat dan saling mendukung, termasuk keterampilan komunikasi yang efektif, kerja sama tim, menyelesaikan konflik secara damai, dan kemampuan menolak tekanan sosial secara asertif.

Contoh di kelas:

Dalam kerja kelompok membuat kampanye sosial digital, seorang siswa mengambil peran sebagai koordinator. Ia memastikan bahwa setiap anggota kelompok merasa didengar, membagi tugas berdasarkan kekuatan masing-masing, dan mengatur waktu diskusi yang fleksibel. Ketika terjadi ketegangan karena seorang anggota tidak menyelesaikan tugasnya tepat waktu, ia tidak menyalahkan langsung, melainkan mengajak bicara secara pribadi, mencari tahu penyebabnya, dan menawarkan bantuan sambil tetap menjaga batasan. Guru mengamati proses ini dan memberikan penguatan atas kemampuan kepemimpinan empatik dan komunikasi efektif yang ditunjukkan siswa.

5. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making)

Kemampuan untuk membuat keputusan yang etis, konstruktif, dan penuh pertimbangan, baik dalam konteks pribadi maupun sosial. Ini mencakup kemampuan mengevaluasi konsekuensi dari tindakan, mempertimbangkan kesejahteraan diri dan orang lain, serta menghargai norma-norma sosial.

Contoh di kelas:

Dalam proyek kampanye lingkungan, kelompok siswa dihadapkan pada pilihan: apakah mereka akan menampilkan data dari blog populer (yang tidak jelas sumbernya) atau menggunakan data ilmiah dari jurnal yang kurang menarik secara visual. Setelah berdiskusi dan mempertimbangkan dampak sosial dari penyebaran informasi yang tidak valid, mereka memutuskan untuk tetap menggunakan data terpercaya meski tampilannya sederhana. Mereka juga memilih narasi ajakan yang ramah dan membangun, bukan menyalahkan, untuk menumbuhkan kepedulian teman-temannya terhadap isu pengelolaan sampah. Keputusan ini menunjukkan kematangan dalam berpikir kritis, tanggung jawab sosial, dan integritas akademik.

 Peran Guru dalam Menanamkan Kompetensi CASEL Sebagai pendidik di jenjang SMA, guru berperan penting sebagai fasilitator, pembimbing, dan teladan dalam pengembangan kompetensi sosial emosional. Pembelajaran sosial emosional tidak harus selalu dalam bentuk sesi formal, tetapi bisa terintegrasi dalam setiap interaksi, proyek kolaboratif, atau cara guru menangani dinamika kelas.

Melalui pemahaman dan penerapan lima kompetensi CASEL secara mendalam, siswa tidak hanya akan menjadi pembelajar yang lebih efektif, tetapi juga tumbuh sebagai individu yang cakap dalam menghadapi kompleksitas dunia nyata dengan empati, integritas, dan rasa tanggung jawab.

2.    LATAR BELAKANG PROGRAM

Latar belakang Program GERIMIS berawal dari situasi di SMAN 15 Bekasi yang memiliki produksi sampah tinggi, sehingga kami mencari solusi untuk mengurangi volume sampah yang tinggi tersebut, mengingat perbandingan tempat sampah yang sedikit dibandingkan dengan jumlah siswa SMAN 15 Bekasi yang lebih dari 1200, sehingga volume sampah yang dihasilkan cukup besar dan mengakibatkan petugas pengambil sampah kesulitan menangani banyaknya sampah yang harus diambil. Kepala Sekolah dan para Wakasek mencari solusi untuk mengurangi jumlah sampah dengan merancang program, lalu muncul ide dari Pak Iksan sebagai Wakasek Bidang Litbang untuk program GERIMIS (Gerakan Ringan Mengurangi Sampah) yang dilaksanakan setiap hari Jumat. Setiap siswa diwajibkan membawa tumbler, wadah makanan, dan plastik sampah untuk membuang sampahnya sendiri yang kemudian dibawa pulang. Alhamdulillah, program ini mendapatkan dukungan dari siswa, seluruh warga sekolah, juga Komite Sekolah dan orang tua siswa SMAN 15 Bekasi.

Alhamdulillah dengan adanya Program GERIMIS banyak manfaat yang dirasakan bagi SMAN 15 Bekasi selain mengurangi debit sampah yang tinggi dan membantu meringankan tugas para pengambil sampah dan dampak yang paling utama adalah menumbuhkan kesadaran diri dikalangan siswa, serta bertanggung jawab bagaimana menjaga kebersihan di lingkungan sekolah dan sampahnya tidak dibuang sembarangan dilingkungan sekolah dengan cara membuang sampah pada plastik sampah yang dibawanya dari rumah dan sampah tersebut dibawa pulang ke rumah masing-masing.

3.    INISIASI PROJEK

Saya memperoleh pengalaman yang signifikan dalam pengembangan kompetensi sosial dan emosional melalui partisipasi aktif dalam program GERIMIS (Gerakan Ringan Mengurangi Sampah) yang dilaksanakan di SMAN 15 Bekasi. Program ini bersifat kolaboratif dan melibatkan seluruh warga sekolah, termasuk guru dan siswa dari berbagai jenjang. Dalam konteks kegiatan ini, saya mengambil peran dalam mendiseminasikan nilai-nilai program melalui perancangan media komunikasi visual berupa poster dan infografis edukatif, yang secara khusus merepresentasikan nilai-nilai fundamental dari Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), yaitu: kesadaran diri (self-awareness), manajemen diri (self-management), kesadaran sosial (social awareness), keterampilan berelasi (relationship skills), dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (responsible decision-making).

Proses pelaksanaan proyek ini diawali melalui diskusi kelompok terstruktur di kelas, di mana siswa didorong untuk menyampaikan pandangan dan gagasannya secara terbuka mengenai tema, desain visual, serta substansi pesan yang ingin disampaikan dalam poster dan infografis GERIMIS. Masing-masing anggota kelompok diberi ruang untuk mengemukakan pendapat, mendengarkan perspektif teman lain, serta terlibat dalam proses pengambilan keputusan kolektif berdasarkan kesepakatan mayoritas yang demokratis.

Keterlibatan dalam diskusi ini menjadi sarana reflektif bagi saya untuk memahami pentingnya empati, toleransi, dan keterbukaan terhadap keberagaman pandangan dalam suatu kerja kolaboratif. Selain itu, melalui dinamika kelompok tersebut, saya belajar untuk mengelola pendapat pribadi, menahan ego, serta memprioritaskan tujuan bersama di atas kepentingan individual. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kemampuan teknis dalam desain komunikasi visual, tetapi juga memperkuat integrasi kompetensi sosial emosional secara nyata dalam konteks pendidikan berbasis proyek di lingkungan sekolah.

Secara keseluruhan, keterlibatan saya dalam program GERIMIS memberikan kontribusi bermakna dalam penguatan kapasitas diri sebagai pelajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga cakap dalam berinteraksi sosial, menyelesaikan konflik secara konstruktif, dan mengambil keputusan yang beretika dan bertanggung jawab terhadap lingkungan serta masyarakat sekolah

4.    PERENCANAAN DAN PEMBAGIAN TUGAS

Dalam proses pelaksanaan proyek pembuatan media kampanye untuk program GERIMIS (Gerakan Ringan Mengurangi Sampah) di SMAN 15 Bekasi, seluruh anggota kelompok terlibat secara aktif dalam tahap perencanaan dan pembagian tugas yang dilakukan secara sistematis dan berbasis pada identifikasi keahlian, minat individu, serta potensi kreatif masing-masing siswa. Proses ini menjadi bagian penting dari pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang menekankan prinsip kolaborasi dan tanggung jawab bersama.

Setiap peserta didik diberikan kesempatan untuk mengambil peran sesuai dengan kompetensinya, antara lain: menentukan tema utama kampanye, merancang elemen desain visual poster, menyusun informasi edukatif yang akan disampaikan dalam bentuk infografis, hingga melakukan proses teknis pencetakan pada media ukuran A3. Penugasan ini tidak bersifat top-down, melainkan melalui musyawarah kelompok yang mengedepankan partisipasi setara, sehingga setiap individu merasa dihargai kontribusinya dan memiliki rasa kepemilikan terhadap hasil akhir proyek.

Pengalaman ini memberikan pembelajaran bermakna bagi saya dan rekan-rekan lainnya, khususnya dalam memahami pentingnya kerja sama tim (teamwork), koordinasi efektif, dan distribusi peran yang proporsional dalam menyelesaikan tugas-tugas bersama. Di samping itu, kegiatan ini turut mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi secara interpersonal, menyelesaikan masalah secara bersama-sama, serta mengelola waktu dan sumber daya secara optimal—semua merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan baik dalam konteks pendidikan maupun dunia kerja.

Dengan demikian, perencanaan dan pembagian tugas dalam proyek ini tidak hanya mendukung pencapaian tujuan program GERIMIS secara teknis, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap penguatan kompetensi sosial emosional, khususnya dalam hal khususnya dalam penguatan kemampuan menjalin relasi interpersonal serta keterampilan mengambil keputusan yang beretika dan berpihak pada kepentingan bersama, sebagaimana diacu dalam kerangka konseptual pembelajaran sosial emosional menurut CASEL.

5.    PELAKSANAAN PROYEK

Pada tahap pelaksanaan proyek pembuatan “waste reduction poster” Program GERIMIS, yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran bahasa inggris, siswa secara aktif terlibat dalam proses kolaboratif yang menuntut interaksi antarpersonal yang intensif. Dalam dinamika kelompok yang berlangsung, muncul sejumlah perbedaan pendapat terkait pemilihan konsep visual, struktur informasi, dan strategi penyampaian pesan. Meskipun perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan gesekan, situasi ini justru menjadi ruang belajar yang otentik bagi siswa dalam mengasah keterampilan sosial dan emosional mereka.

Melalui fasilitasi guru dan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang konstruktif, siswa belajar untuk mengartikulasikan gagasan secara jelas, mendengarkan secara aktif, serta menunjukkan sikap saling menghargai dalam diskusi kelompok. Proses ini juga mendorong terciptanya negosiasi dan kompromi yang didasarkan pada pertimbangan bersama, sehingga solusi yang diambil bersifat inklusif dan dapat diterima oleh seluruh anggota kelompok.

Lebih dari sekadar pencapaian produk akhir, pengalaman ini menjadi pembelajaran transformatif yang memperkuat nilai-nilai kesabaran, empati, dan kedewasaan emosional dalam menyikapi perbedaan. Hal ini menunjukkan bagaimana lingkungan belajar yang kolaboratif mampu mendorong siswa untuk tumbuh tidak hanya sebagai individu yang kreatif, tetapi juga sebagai pribadi yang mampu menjalin hubungan sosial yang sehat dan menyelesaikan konflik secara adaptif. 

6.    PELAKSANAAN PROYEK

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran berbasis proyek dalam program GERIMIS (Gerakan Ringan Mengurangi Sampah) memberikan dampak yang signifikan terhadap penguatan kompetensi sosial emosional siswa. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi yang diperoleh selama proses pembelajaran, tampak bahwa partisipasi aktif siswa dalam proyek ini telah mendorong perkembangan berbagai dimensi kompetensi yang dikembangkan dalam kerangka CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning). Adapun capaian pembelajaran sosial emosional yang teridentifikasi meliputi:

a.       Kesadaran Diri (Self-Awareness):

Siswa menunjukkan peningkatan dalam kesadaran terhadap tanggung jawab pribadi, terutama dalam hal menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Mereka memahami peran individu dalam mendukung terciptanya ekosistem sekolah yang bersih dengan membuang sampah pada tempatnya sebagai bentuk konkret dari kesadaran lingkungan dan nilai tanggung jawab diri.

b.      Manajemen Diri (Self-Management):

Siswa mampu mengelola emosi dan mengatur perilaku secara konstruktif, khususnya saat menghadapi dinamika kelompok yang melibatkan perbedaan pendapat dalam diskusi pembuatan poster dan infografis. Mereka menerapkan strategi komunikasi yang asertif serta menunjukkan ketahanan emosional dalam situasi yang menuntut pengendalian diri.

c.       Kesadaran Sosial (Social Awareness):

Kemampuan siswa dalam memahami perspektif dan menghargai pendapat orang lain mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari keterbukaan mereka dalam menerima ide dari teman sekelompok yang berasal dari latar belakang pemikiran berbeda, serta kepekaan terhadap dinamika sosial selama proses diskusi kelompok.

d.      Keterampilan Berhubungan (Relationship Skills):

Siswa mampu menjalin interaksi yang sehat dan produktif, dengan cara menyampaikan ide secara aktif berdasarkan minat, bakat, dan kreativitas masing-masing. Kolaborasi yang terjadi dalam penyusunan materi poster dan infografis memperlihatkan kemampuan mereka dalam bekerja sama, membagi peran, dan saling mendukung dalam mencapai tujuan bersama.

e.       Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making):

Siswa menunjukkan keterampilan dalam membuat keputusan yang reflektif dan mempertimbangkan kepentingan semua pihak. Hal ini tampak saat mereka memilih tema, desain visual, serta konten informasi yang akan disampaikan dalam poster dan infografis GERIMIS. Mereka juga mampu menyusun solusi yang kompromis saat terjadi perbedaan pendapat, dengan tujuan menjaga keharmonisan dan efektivitas kerja kelompok.

Selain kelima aspek utama di atas, kegiatan ini juga memberikan kontribusi tambahan berupa peningkatan empati antar siswa, kemampuan pengelolaan emosi yang lebih baik, serta peningkatan kualitas kerja sama tim. Proyek ini tidak hanya menghasilkan produk visual yang edukatif, tetapi juga menjadi wahana nyata untuk menginternalisasi nilai-nilai sosial emosional dalam konteks pembelajaran yang autentik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

7.    EVALUASI DAN UMPAN BALIK

Setelah kegiatan proyek pembuatan “waste reduction poster” program GERIMIS diselesaikan, dilakukan tahap evaluasi formatif dan refleksi bersama yang melibatkan baik peserta didik maupun rekan-rekan pendidik. Proses ini bertujuan untuk meninjau efektivitas pembelajaran, menilai proses kolaboratif yang telah berlangsung, serta mengidentifikasi pencapaian dan area pengembangan yang perlu diperkuat pada kegiatan serupa di masa mendatang.

Dalam sesi umpan balik yang dilaksanakan di kelas, saya menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif, semangat kolaboratif, dan etos kerja yang ditunjukkan siswa sepanjang pelaksanaan proyek. Penekanan diberikan pada keberhasilan mereka dalam menerapkan nilai-nilai kerja sama tim, komunikasi efektif, serta kreativitas dalam menyusun media kampanye edukatif yang relevan dengan isu lingkungan sekolah.

Selain itu, masukan dari sesama guru yang turut mengamati jalannya proyek juga mencerminkan pengakuan positif terhadap pendekatan pembelajaran yang diterapkan. Rekan-rekan guru menilai bahwa kegiatan ini berhasil mengintegrasikan keterampilan abad ke-21 dengan nilai-nilai sosial emosional secara seimbang, serta memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Kegiatan evaluasi dan pemberian umpan balik ini menjadi bagian integral dari siklus pembelajaran reflektif, yang tidak hanya memperkuat capaian kognitif dan afektif peserta didik, tetapi juga mendorong pengembangan profesionalisme guru dalam merancang dan melaksanakan strategi pembelajaran yang kontekstual dan transformatif.

8.    PENERAPAN DAN REFLEKSI

Implementasi rancangan pembelajaran sosial emosional (PSE) dalam konteks pembuatan “Waste Reduction Poster” Program GERIMIS menunjukkan hasil yang konstruktif dan transformatif dalam dinamika pembelajaran di kelas. Dengan pendekatan yang berbasis proyek dan kolaboratif, para siswa menunjukkan tingkat keterlibatan yang tinggi, ditandai dengan antusiasme, inisiatif, dan partisipasi aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Selama proses berlangsung, siswa tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif dan teknis dalam desain visual dan penyampaian pesan edukatif, tetapi juga menunjukkan indikator positif dalam penguatan kesadaran diri (self-awareness) dan kesadaran sosial (social awareness). Mereka mulai memahami nilai-nilai personal dan tanggung jawab individu terhadap isu lingkungan, sekaligus meningkatkan sensitivitas terhadap dinamika kelompok dan kepentingan bersama. Secara umum, atmosfer kelas mengalami pergeseran yang signifikan menuju iklim belajar yang lebih inklusif, suportif, dan kondusif. Hubungan antar siswa menjadi lebih terbuka dan komunikatif, serta tercipta ruang belajar yang memungkinkan pertumbuhan karakter dan kolaborasi yang sehat. Refleksi terhadap penerapan ini mengonfirmasi bahwa integrasi dimensi sosial emosional ke dalam kegiatan pembelajaran berbasis proyek bukan hanya memperkaya proses akademik, tetapi juga memperkuat pembentukan profil pelajar yang utuh dan adaptif terhadap tantangan sosial kontekstual.

9.    KESIMPULAN

Pengalaman pembelajaran ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman saya mengenai urgensi dan relevansi penerapan pembelajaran sosial emosional (PSE) dalam konteks kehidupan sekolah dan praktik pendidikan sehari-hari. Kegiatan kolaboratif yang dilakukan, khususnya melalui komunikasi yang konstruktif dan kerja sama yang efektif antar siswa, telah menunjukkan bahwa penguatan kompetensi sosial emosional mampu menciptakan iklim pembelajaran yang inklusif, suportif, dan transformatif. Penerapan nilai-nilai seperti empati, kesadaran diri, serta keterampilan berinteraksi sosial terbukti mendorong tercapainya hasil pembelajaran yang tidak hanya bermakna secara kognitif, tetapi juga berdampak pada pembangunan karakter peserta didik dan hubungan antarwarga sekolah yang lebih harmonis. Ke depan, saya meyakini bahwa integrasi aspek sosial emosional dalam berbagai bentuk proyek pembelajaran tidak hanya akan memperkaya proses pedagogis, tetapi juga membentuk fondasi penting bagi pengembangan kepribadian dan kompetensi sosial yang berkelanjutan. Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk terus mengimplementasikan prinsip-prinsip pembelajaran sosial emosional dalam program-program pendidikan di sekolah maupun dalam kehidupan pribadi sebagai bagian dari praktik reflektif dan penguatan karakter.

10.    DOKUMENTASI

- HARI PERTAMA ( Perencanaan Program Gerimis )



                   HARI KEDUA ( Diskusi Kelompok )



                    HARI KETIGA ( Presentasi Hasil Proyek Poster )















Wednesday, June 11, 2025

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL FASE E

 

JURNAL PEMBELAJARAN MODUL 1

PRINSIP PENGAJARAN DAN ASESMEN ( UMUM )

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DENGAN

MODEL PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL FASE E


Di Susun oleh :

Abdul Haris Azis, S.Pd



LPTK Universitas Muhammadyah Prof. Dr. Hamka

PPG GURU TERTENTU TAHAP 1 TAHUN 2025




AKSI NYATA MERANCANG PEMBELAJARAN DIFERENSIASI

 

A.        Pengertian Pembelajaran Diferensiasi

Pembelajaran diferensiasi adalah pembelajaran pada pendalaman bahwa setiap siswa atau peserta didik adalah individu yang mempunyai  keunikan tersendiri dan memiliki kebutuhan teknik pembelajaran yang beragam, pembelajaran diferensiasi akan menyesuaikan pembelajaran demi keleluasaan peserta didik untuk menggali semua  potensi dirinya sehingga dengan begitu mereka mampu aktif dalam pembelajaran, keinginan dan minat belajar yang berbeda. Pada pembelajaran diferensiasi guru merancang setiap pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan setiap individual peserta didik, menyesuaikan gaya belajar, kemauan, kesanggupan dan kesiapan belajar dan  pembelajaran peserta didik dan kebutuhan pribadi masing-masing.

 

B.         Komponen Pembelajaran Diferensiasi

Ada tiga komponen dasar dalam pembelajaran diferensiasi yang dapat diterapkan dengan baik dan benar saat pembelajaran di kelas oleh guru yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk (Tomlinson, C. A; 2000; 2001)

1.      Diferensiasi Konten

Diferensiasi konten merupakan pembelajaran yang berfokus pada  materi pembelajaran dan bahan ajar yang disajikan kepada siswa atau peserta didik. Pada diferensiasi konten guru harus merubah seluruh materi pembelajaran agar sesuai dengan tingkat pemahaman, keinginan dan gaya belajar siswa atau peserta didik. Guru di tekankan untuk memodifikasi tingkat kesukaran pada materi, serta memahami sumber daya yang berbeda-beda sesuai dengan minat individu dari peserta didik dengan tujuan supaya seluruh peserta didik dengan pemahaman yang berbeda dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan, walaupun begitu guru juga tetap harus menentukan konsep dasar yang harus dikerjakan oleh setiap individu pada peserta didik sebagai bahan pengetahuan awal sehingga kita mampu menemukan persoalan yang kompleks didalamnya, mereka mampu melaksanakan tugasnya dengan antusias dan kreatif. Contoh  penerapan diferensiasi konten diantaranya:

a.    Menyediakan buku bacaa atau materi yang berkaitan dengan tingkat kesulitana yang berbeda.

b.    Meyediakan alat peraga, grafik materi atau video sebagai pendukung saat pembelajaran dalam pemahaman siswa atau peserta didik.

c.    Mempersiapkan tugas yang akan diberikan kepada peserta didik dengan kesesuain tingkat pemahaman

d.    Siap memberikan pendampingan terhadap peserta didi dengan pemahaman yang kurang


1.      Diferensiasi Proses

Diferensiasi proses merupakan pembelajaran lewat  proses bagaimana cara guru harus melakukan pembelajaran dengan disertai bimbingan terhadap siswa atau peserta didik. Dalam hal ini diferensiasi proses guru diharuskan mampu menggunakan model pembelajaran  yang lebih komplek dan beragam dalam satu waktu agar sesuai dengan gaya belajar dan kebutuhan belajar peserta didik supaya mencapai tujuan dalam memfasilitasi setiap siswa atau peserta didik untuk dapat melakukan seluruh aktivitas pembelajaran  yang sesuai dengan minat peserta didik sehingga dapat menciptakan pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada  materi yang sedang diajarkan. Contoh penerapan diferensiasi proses diantaranya:

a.         Guru mempersiapkan model pembelajaran yang digunakan secara bervariasi dan dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa atau peserta didik.

b.         Membuat kelompok didalamnya yang terdiri dari kelompok kecil untuk melatih kemampuan saat berkomunikasi pada peserta didik.

c.         Membuat kelompok pada peserta didik sesuai dengan kemampuan awal yang sudah dimiliki.

d.         Menyiapkan pembelajaran berbasi projek untuk memfasilitasi seluruh pemahaman konsep.

2.      Diferensiasi Produk

Diferensiasi produk berkaitan dengan hasil keseluruhan dari  tugas pembelajaran yang diberikan dan melakukan penilaian produk atau hasil belajar siswa. Tugas serta  penilaian untuk keseluruhan peserta didik yang telah dibuat secara beragam namun masih tetap selaras pada tujuan pembelajaran yang sama sesuai dengan yang telah ditentukan oleh guru. Diferensiasi produk harus mencakup keseluruhan peserta didik bagaimana menunjukan pemahaman mereka pada  bahan ajar yang telah diberikan. Guru mengarahkan dan memberikan pilihan kepada siswa atau peserta didik untuk mengekplore dan mengekspresikan semua pemahaman mereka melalui berbagai produk dan karya yang orisinalitas. Contoh penerapan diferensiasi produk diantaranya :

a.         Memberikan pilihan untuk semua tugas yang dihasilkan saat pembelajaran seperti laporan tertulis, produk, karya nyata, atau bermain peran.

b.         Memebrikan keleluasaan kepada peserta didi untuk membuat produk original yang mencerminkan pemahaman mereka menyesuaikan dengan karakter mereka masing-masing.

a.         Memberikan tugas / projek kolaboratif yang melibatkan seluruh peserta didik untuk mampu menghasilkan karya/produk original bersama.

b.         Melakukan kolaborasi dalam projek penguatan profil pelajar pancasila yang berkesinambungan.

Dalam memahami dan menerapkan tiga komponen pembelajaran direfensiasi dalam proses pembelajaran, guru mampu membuat suasana pengalaman belajar yang berkesan bagi mereka dan relevan dengan berbagai konsep dan macam keunikannya masing-masing. Hal ini dapat memberikan pengalama dengan baik bahwa siswa atau peserta didik mendapatkan dukungan yang besar dan diperlukan supaya mampu mencapai tujuan pembelajaran dikeseluruhannya.

 

B.         Langkah-langkah yang Diterapkan dalam Pembelajaran Diferensiasi

 

Dalam pengimplementasian pembelajaran diferensiasi dalam proses pembelajaran guru harus melakukan langkah-langkah berikut:

1.    Guru melaksanakan penilaian diagnostik untuk menentukan kemampuan awal, gaya belajar, kemauan dan kebutuhan pembelajaran yang diinginkan siswa.

2.    Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok sesuai hasil dari asesmen diagnostik yang telah dilaksanakan sebelumnya.

3.    Menganalisis tujuan pembelajaran.

4.    Menyelaraskan kebutuhan belajar dengan tujuan pembelajaran.

5.    Menentukan modifikasi diferensiasi yang akan digunakan.

6.    Memilih konten atau materi pembelajaran, menentukan ragam aktivitas belajar dan merencanakan produk akhir sesuai dengan kebutuhan, minat dan kemampuan peserta didik.

7.    Melakukan refleksi diakhir pembelajaran

 

C.         Tujuan Penerapan Pembelajaran Diferensiasi

Tujuan penerapan pembelajaran diferensiasi dalam proses pembelajaran adalah:

1.    Menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik, minat, gaya belajar, dan kebutuhan belajar peserta didik.

2.    Peserta didik diharapkan dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

3.    Menciptakan kesetaraan belajar bagi semua peserta didik dan menjembatani kesenjangan belajar antara peserta didik yang sudah mahir dengan peserta didik yang mulai berkembang.

4.    Menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan efektif.

A.        Manfaat Penerapan Pembelajaran Diferensiasi

1.      Manfaat bagi Guru

Manfaat penggunaan metode pendekatan diferensiasi bagi guru adalah sebagai berikut:

a.    Guru bisa dengan baik memahami perbedaan karakteristik yang ada pada masing-masing individu.

b.    Guru mampu menentukan strategi pembelajaran yang tepat.

c.    Guru mampu menjadi jembatani semua permasalahan saat pembelajaran

d.    Guru dapat mengembangkan lagi dengan lebih kreatif dalam pembelajaran.

2.    Manfaat bagi Peserta Didik

Manfaat penerapan diferensiasi bagi peserta didik adalah sebagai berikut:

a.         Pendapatkan pembelajara yang lebih bermakna dan menyenangkan.

b.        Peserta didik dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

c.         Pendapatkan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan belajar dalam proses pembelajaran.

d.        Peserta didik dapat mengekspresikan hasil karyan atau hasil belajar mereka sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

 

B.         Rencana Aksi Nyata Pembelajaran Diferensiasi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris pada Fase E

 

Setelah mempelajari modul 1 tentang Prinsip Pengajaran dan Asesmen saya akan mengimplementasikannya dalam aksi nyata untuk jurnal pembelajaran dengan pendekatan diferensiasi. Rencana pembelajaran yang saya buat adalah sebagai berikut:

 

1.    Proses pembelajaran akan dilaksanakan di kelas X pada mata pelajaran bahasa inggris dengan materi aritmatika sosial.

2.    Pelaksanaan pengambilan Asesmen diagnostik yang saya lakukan diawal pembelajaran ditujukan untuk saya melihat semua informasi tentang kemampuan awal peserta didik.

3.    Melihat hasil asesmen diagnostik yang saya lakukan, saya membuat kelompok peserta didik sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki.

4.    Mengamati dan Menganalisis tujuan pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik tetapi masih berkaitan dengan acuan  pada tujuan pembelajaran utama.

5.    Pembelajaran yang saya lakukan adalah diferensiasi konten dan diferensiasi proses.


KOMPONEN INTI

 

A.              A.     CAPAIAN PEMBELAJARAN

Peserta didik dapat mengelompokan olahraga serta mampu memahami dan menemukan informasi rinci dari berbagai jenis teks tulis seperti teks deskriptif (deskripsi olahraga/atlet), teks prosedur (cara melakukan olahraga/resep sehat), dan infografis tentang manfaat olahraga atau data kesehatan. Mereka dapat menyimpulkan makna kata-kata baru berdasarkan konteksnya.

 

B.      TUJUAN PEMBELAJARAN

Memproduksi teks prosedur lisan dan teks prosedur tulis multimoda tentang cara menjaga dan mempertahankan kesehatan isik dan mental sesuai dengan konteks dan tujuan yang hendak dicapai.

 

C.      PEMAHAMAN BERMAKNA

A procedure text is a text that gives instructions for doing a particular activity. It can also serve to explain how something works. It aims to give instruction or to explain how something can be done. It uses imperative and consists of goal or purpose, may or may nor contain materials, and steps.

 

D.     PERTANYAAN PEMANTIK

v  Why do you think you need to stay healthy?

v  Can you mention one creative way of staying healthy?                                                           


Kegiatan

Deskripsi Kegiatan

Waktu

Kegiatan Pendahuluan

 

1.          Peserta didik menjawab salam yang disampaikan oleh guru

2.          Guru mempersilahkan ketua kelas untuk memimpin doa sebelum mengawali pembelajaran.

3.          Guru melakukan absensi, dengan menanyakan peserta didik yang tidak hadir.

4.          Peserta didik menyiapkan diri untuk melakukan pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

Fase 1. Orientasi peserta didik pada masalah

 

5.          Guru memberikan informasi awal tentang materi yang akan dipelajari hari ini.

6.          Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik.

7.          Peserta didik diberikan motivasi oleh guru tentang pentingnya mempelajari materi olahraga untuk menjaga kesehatan tubuh

8.          Peserta didik diingatkan kembali tentang materi prasyarat yaitu tentang pelajaran sebelumnya yaitu menjaga dunia agar tetap hijau.

9.          Peserta didik diberikan masalah berupa suatu konsep pinjaman dan simpanan yang ada dikehidupan sehari-hari, seperti gambar dibawah ini:

 

 

 

Guru bersiap memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik tentang gambar diatas sebagai berikut :

 

a.    Apakah kalian senang olahraga ?

(Do you like sports? )

b.    Apakah kalian merasa sering sakit-sakitan jika tidak olahraga dan hanya rebahan saja dikamar ?

( Do you feel sick often if you don't exercise and just lie down in your room? )

c.    Olahraga apa yang kalian sukai untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat ?

(What sports do you like to keep your body healthy?)

 

10 menit

Kegiatan Inti

Fase 2. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar

(Diferensiasi konten)

10.      Peserta didik dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan hasil asesmen diagnosis :

v  Kelompok 1

adalah peserta didik dengan kemampuan mahir

v  Kelompok 2

adalah peserta didik dengan kemampuan cukup berkembang.

v  Kelompok 3

Adalah peserta didik dengan kemampuan mulai berkembang.

 

11.      Peserta didik diberikan bahan ajar dan LKPD yang telah disesuaikan dengan kemampuan masing- masing peserta didik.

 

12.      Guru memberikan materi dasar terlebih dahulu dan memberikan contoh dalam pengisian bahan ajar yang sudah diberikan untuk mempermudah peserta didik dalam mengerjakan LKPD.

 

Fase 3. Membimbing Pemecahan Masalah (Diferensiasi Proses)

13.      Peserta diminta untuk mendiskusikan bahan ajar dan LKPD secara berkelompok.

14.      Guru melaksanakan bimbingan kepada peserta didik di kelompok 2 dan kelompok 3.

15.      Kelompok 1 dengan peserta didik dengan tingkat kemampan mahir diarahkan untuk belajar mandiri dan mencari informasi di buku atau dengan bantuan internet.

16.      Guru melakukan penguatan materi terhadap kelompok 1.

 

Fase 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

(Diferensiasi Produk)

 

17.      Peserta didik diberikan waktu dan berkolaborasi dengan teman sekelompoknya untuk menyelesaikan LKPD.

18.      Guru mempersilahkan peserta didik untuk menentukan cara menyajikan hasil diskusi kelompoknya sesuai dengan kesepakatan bersama teman sekelompok.

19.      Peserta didik mendiskusikan cara mereka untuk unjuk hasil diskusi.

20.      Setelah mendiskusikan penyajian hasi diskusi, peserta didik menyajikan hasil diskusinya di depan kelas.

21.      Kelompok lain bisa memberikan tanggapan atau pertanyaan.

 

Fase 5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

 

22.      Peserta didik dari masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk saling menanggapi hasil presentasi dari kelompok lain.

23.      Guru memberikan penguatan terhadap hasil pemecahan masalah yang disampaikan peserta didik.

24.      Guru mengadakan kuis untuk mengukur batas kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah kontekstuan yang berhubungan dengan olahraga dan kesehatan.

 

70 menit

Kegiatan Penutup

25.    Guru dan peserta didik bersama-sama membuat Kesimpulan untuk materi yang telah dipelajari.

26.    Guru dan peserta didik melakukan refleksi.

27.    Guru menyampaikan informasi materi yang akan di pelajari pada pertemuan berikutnya.

28. Guru dan murid berdo’a untuk menutup kegiatan

pembelajaran.

10 menit

 

A.     REFLEKSI GURU

1)        Apakah 100% peserta didik mencapai tujuan pembelajaran? Jika tidak berapa      persen yang tidak mencapai tujuan pembelajaran?

2)        Apa saja kesulitan peserta didik dalam memahami materi olahraga dan kesehatan?

3)        Apa yang menarik dalam pembelajaran kali ini?

4)        Apa yang akan dilakukan untuk pembelajaran selanjutnya?

 

D.      REFLEKSI PESERTA DIDIK

1)        Apa saja yang telah kalian pelajari hari ini?

2)        Bagaimana perasaan kalian saat belajar hari ini?

3)        Apa yang paling kalian kuasai pada materi ini?

4)        Apa yang tidak kamu sukai pada materi ini?

 

E.      ASESMEN PEMBELAJARAN

v  Asesmen diagnostik: dilakukan pada awal lingkup materi.

v  Asesmen formatif: dilakukan pada akhir pembelajaran

v  Asesmen sumatif : dilakukan diakhir lingkup materi


     F.     REFLEKSI GURU

1)        Apakah 100% peserta didik mencapai tujuan pembelajaran? Jika tidak berapa      persen yang tidak mencapai tujuan pembelajaran?

2)        Apa saja kesulitan peserta didik dalam memahami materi olahraga dan kesehatan?

3)        Apa yang menarik dalam pembelajaran kali ini?

4)        Apa yang akan dilakukan untuk pembelajaran selanjutnya?

 

G.      REFLEKSI PESERTA DIDIK

1)        Apa saja yang telah kalian pelajari hari ini?

2)        Bagaimana perasaan kalian saat belajar hari ini?

3)        Apa yang paling kalian kuasai pada materi ini?

4)        Apa yang tidak kamu sukai pada materi ini?

 

H.      ASESMEN PEMBELAJARAN

v  Asesmen diagnostik: dilakukan pada awal lingkup materi.

v  Asesmen formatif: dilakukan pada akhir pembelajaran

v  Asesmen sumatif : dilakukan diakhir lingkup materi


I.     KRITERIA KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

Kompetensi yang harus dikuasi peserta didik adalah mampu mengelompokan dan menguraikan mamfaat menjaga olahraga untuk kesehatan tubuh. Penilaian didapat dari hasil presentasi dan hasil asesmen formatif.

 

B.               J.   PENGAYAAN DAN REMEDIAL J

Perbaikan diberikan berdasarkan analisis penilaian harian, peserta didik yang belum mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran yaitu 75 diberikan kegiatan remedial dalam bentuk:

a.      Bimbingan perorangan jika peserta didik yang belum tuntas ≤ 20%

b.      Belajar kelompok jika peserta didik yang belum tuntas antara 20% sampai 50%.

c.       Pembelajaran ulang jika peserta didik yang belum tuntas lebih dari 50% Materi remidial: materi difokuskan pada indikator yang paling banyak tidak dikuasi oleh peserta didik.

Materi pengayaan diberikan ketika peserta didik yang sudah memenuhi KKTP. Materi pengayaan yaitu pemberian tugas dengan permasalahan yang menguatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

 

K.      LAMPIRAN

1.         Instrumen asesmen diagnostik :

Asesmen diagnostik Sport and Healthy care

                   Kerjakan soal dibawah ini sesuai dengan pengetahuan kalian!

1)        Apa yang kalian ketahuan tentang Sport and Healthy Care?

(What do you know about Sport and Health Care?)

2)        Apa saja contoh olahraga yang kalian jalani setiap hari?

( What are some examples of sports that you do every day?)

3)        Bagaimana dampak yang diakibatkan karena kurangnya berolah raga untuk kesehatan?

( What are the impacts of lack of exercise on health? )

4)        Olahraga apa saja yang sesuai untuk pelajar dan semua anak muda di indonesia?

( What sports are suitable for students and all young people in Indonesia? )

5)        Apa dukungan pemerintah agar anak muda indonesia bisa olahraga rutin untuk menjaga kesehatannya?

( What is the government's support so that young Indonesians can exercise regularly to maintain their health?)


Pembagian Kelompok 

 

Kelompok 1 Mahir

Kelompok 2 Cukup Berkembang

Kelompok 3 Mulai berkembang

 

 

 

Nama Peserta didik

1.    Amel Nur Risky

2.    Dinda Nur Rahma

3.    Fulfi Falkisan

4.    Raisa

5.    Rahmawati

6.    Muthia Salsa

1.    Siti Hilma

2.    Zean Mawarni

3.    Neli Aulia

4.    Arfina Putri

5.    Sopa Riani

6.    Nurul Fauziah

1.   Azwa Ramadan

2.   Daffa Anaufal

3.   Dwi Pasha

4.   Rama Putra

5.   Rika Intan

6.   Siti Asmi

         

        

Kelompok

Kelompok 1 Mahir

Kelompok 2 Cukup Berkembang

Kelompok 3 Mulai berkembang

Tujuan Pembelajaran

Provide some examples of the impacts caused by lack of exercise on the body and present them in front of the class using good language.

( Memberikan beberapa contoh dampak yang ditimbulkan akibat karena kurangnya olahraga pada tubuh dan mempresentasikanya di depan kelas dengan bahasa yang baik)

(Finding the difference between a body that rarely exercises and a body that exercises frequently )

Menemukan perbedaan tubuh yang jarang melakukan olah raga dengan tubuh yang sering berolahraga

 

(Determining the right sport for health for young people in Indonesia )

Menentukan olah raga yang cocok untuk kesehatan bagi anak muda di indonesia

(Determining the right sport for health for young people in Indonesia )








Aspek

yang dinilai

Skor

 

1

2

3

4

Keaktifan

Peserta didik

Peserta didik

Peserta didik

Peserta didik

 

tidak terlibat

kurang aktif

telibat aktif

telibat aktif

 

aktif dalam

dalam

dalam

dalam

 

pembelajaran

pembelajaran

pembelajaran

pembelajara

 

ataupun

ataupun

ataupun

n ataupun

 

diskusi.

dalam

diskusi tetapi

diskusi dan

 

 

diskusi.

belum

sudah

 

 

 

konsisten

konsisten

 

 

 

melakukannya.

melakukann

 

 

 

 

ya.

Bekerja sama

Peserta didik

Peserta didik

Peserta didik

Peserta didik

 

tidak bisa

kurang bisa

bekerja sama

selalu

 

bekerja sama

bekerja sama

dalam

bekerja sama

 

dalam

dalam

kelompoknya

dalam

 

kelompoknya.

kelompoknya

akan tetapi

kelompokny

 

 

.

belum

a dan sudah

 

 

 

konsisten

konsisten

 

 

 

melakukannya

 


REFLEKSI

Selama ini saya sebagai guru sekolah menengah atas sering kali menemui permaslahan di kelas dengan bermacam-macam. Tiap tahun anak yang baru hadir dengan keunikan masing-masing sehingga berbagau macam teknik pembelajaran sering kali saya coba. Situasi ini membuat mata saya terbuka , bahwa satu pendekatan pembelajaran tidak akan mampu memenuhi kebutuhan semua siswa secara keseluruhan dengan adil. Maka terbersitlah di benak saya mulai berkomitmen dengan merancang pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran berdiferensiasi.

 

Ketika memulai pembelajaran dengan tema “ sport and healthy “ pada level kelas x untuk mata pembelajaran bahasa inggris. Saya dengan semangat untuk menerapkan diferensiasi secara terukur dan terencana. Tujuan dari pembelajaran ini untuk  membantu siswa  dapat memilah dan memilih olahraga dan kesehatan yang didapatkan dari kegiatan tersebut setelah itu mereka mempresentasikannya di depan kelas secara lisan.

 

Pada tahap pertama saya melakukan asesmen secara doagnostik yang sederhana menggunakan percakapan ringan dalam bahasa inggris dan melakukan pengamatan tugas-tugas yang sebelumnya di berikan serta mengetahui hasilnya.

 

Sebagian siswa bisa dengan lancar menuliskan tugas tersebut, tetapi mereka kurang dalam percaya diri untuk berbicara di depan kelas. Ada juga siswa yang aksi dan ekspresif secara lisan, tetapi kesulitan dan tulisan. Serta ada juga yang membutukan bimbingan yang lebih sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam pengerjaannya dan kurang memahami instruksi yang di berikan secara sederhana.

Dengan melihat dari hasil yang telah di lakukan, saya mencoba untuk membuat pembelajaran dengan cara diferensiasi dalam proses, diferensiasi konten, dan diferensiasi produk seperti di bawah ini.

a.      Diferensiasi Proses

Saya mengajukan beberapa pilihan cara pembelajaran, siswa yang mampu belajar dengan hanya membaca buku materi, siswa yang bisa belajar dengan menonton video yang disajikan tentang olahraga dan menjaga kesehatan atau melangsungkan tanya jawab secara singkat dengan teman sekelasnya. Ini memberikan waktu yang lebih bagi saya untuk menyajikan gaya pembelajaran secara visual, auditori dan secara kinestik saat siswa sedang belajar.

 

 

b.      Diferensiasi Konten

Saya berusaha untuk mempersiapkan bahan bacaan dengan level kesulitan yang berbeda-beda. Siswa yang sudah mampu dengan mahir di beri teks yang lebih komplek dan cukup banyak. Sedangkan untuk siswa yang masih belajar teks bahasa inggris dengan biasa saja diberikan teks yang lebih sederhana dengan banyak gambar didalamnya.

 

c.       Diferensiasi Produk

Saya mempersiapkan teks tanya jawab, dan memberikan pilihan pada akhir pembelajaran, menulis dalam bentuk teks bacaan, membuat spanduk dan poster dengan banyak bahasa kutipan dari hasil tanya jawab tersebut, merekam dalam bentuk audio visual saat presentasi. Serta semua murid diberikan keleluasaan untuk memilih agar sesuai dengan kemampuan mereka saat ditampilkan didepan kelas.

 

            Sungguh di luar ekspektasi hasilnya membuat saya sangat puas. Mereka lebih percaya diri karena mereka bebas memilih pembelajaran yang sesuai dengan karakter yang mereka inginkan. Siswa yang biasa diam dan biasa-biasa saja sekarang sudah berani unjuk gigi untuk tampil dengan videonya. Siswa yang ada kesulitan dalam penulisan teks yang banyak ternyata mereka juga mampu membuktikan hasil karya nya dalam bentuk poster yang luar biasa dan berdaya jual.

 

Kali ini perasaan saya sebagai guru yang harus banyak belajar bahwa pembelajaran berdiferensiasi bukan hanya soal membuat bahan ajar dan semua tentang karakter siswa untuk mengeluarkan semua kemampuan dan fashion yang mereka miliki sesuai dengan potensinya. Walaupun banyak perencanaanya yang memerlukan usaha yang begitu banyak tantangan pada akhirnya memperhatikan mereka bersemangat dalam belajar terus bertambah dan meningkat adalah suasana yang membuat kita puas dan bahagia.

DOKUMENTASI

 

Pelaksanaan Pembelajaran





Pembagian LKPD


Bimbingan Pengisian LKPD



Presentasi Peserta didik


Presentasi Hasil Karya/Produk



Diskusi Rekan Sejawat